Mimi Lan Mintuno

July 21, 2014 at 10:13 am Leave a comment

Melambangkan Cinta Sejati, Dalam budaya Jawa, sering kita jumpai doa yang terucap “Dadio pasangan koyo mimi lan mintuno”. Apa yang kemudian terbesit dari doa itu. Ternyata banyak yang tidak faham apa yang dimaksud dengan “mimi lan mintuno”. Saya mencoba mencari jawaban atas kegalau hati soal “mimi lan mintuno”, akhirnya terpecahkan sudah apa itu “mimi lan mintuno” dan juga filosofinya mengapa pasangan setia itu selalu digambarkan dengan “mimi lan mintuno” .  Mimi, atau mintuna, ialah beberapa jenis hewan beruas (artropoda) yang menghuni perairan dangkal wilayah paya-paya dan kawasan mangrove yang berbentuk seperti ladam kuda berekor. Semuanya (empat jenis) termasuk dalam keluarga Limulidae dan menjadi wakil dari bangsa Xiphosurida yang masih bertahan hidup. Cetakan fosil hewan ini tidak mengalami perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu) dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama.

Sejenis ketam, yang dalam bahasa Inggris,  mungkin karena bentuknya seperti ladam kuda (walaupun punya ekor) disebut “Horseshoe Crab”. Termasuk hewan beruas (arthropoda) yang huniannya di paya-paya. Dalam bahasa Indonesia disebut kepiting ladam atau belangkas. Dalam bahasa Jawa jenis jantan binatang ini disebut “mimi” sedang betinanya “mintuna”. Termasuk satu dari dua binatang yang dalam bahasa Jawa betul-betul mempunyai nama khusus (baca Nama binatang jantan dan betina: Bahasa Jawa dan Inggris).
Mimi dan mintuna menarik bagi orang Jawa karena perilakunya yang kemana-mana senantiasa berpasangan. Sehingga suami isteri yang hidup rukun, kemana-mana selalu bersama, sebagai dua sejoli yang sehidup semati dikatakan seperti “mimi lan mintuna”. Oleh sebab itu dalam “panyandra” upacara pengantin adat Jawa, pembawa acara hampir dipastikan selaku menyebutkan kata “mimi lan mintuna” ini, misalnya:
… rinten dalu enjing sonten, amung tansah runtung-runtung, bebasane keket raket renggang gula kumepyur pulut, runtung-runtung rerentengan pindha mimi lan mintuna …
… bagya mulya hayem tentrem runtang-runtung rerentengan kadya mimi lan mintuna ….
… kadya mimi lan mintuna gandheng renteng pindha Kamajaya lan Kamaratih dewa-dewining asmara, bebarengan sesandhingan mecaki dina-dina swarga donya …
Dalam dunia moderen sekarang ini “mimi lan mintuna” tidak hanya muncul sebagai kata-kata panata adicara pengantin adat Jawa. Remy Sylado pun menulis sebuah novel dengan judul “Mimi Lan Mintuna” setebal 292 halaman, diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2007. Ceritanya cukup seru, intinya tetap kesetiaan yang dikemas dalam situasi jaman sekarang. Bagaimana Petruk sang preman kampung menyelamatkan Indayati, isterinya, yang menjadi korban trafiking (perdagangan wanita) di luar negeri. Silakan baca sendiri.
Yang menyedihkan “mimi lan mintuna” ternyata juga menjadi santapan manusia. Bisa sekedar dibakar saja, konon di Malaysia dimasak menjadi asam pedas dan sambal tumis belangkas. Hati-hati dalam belangkas ini ada racun yang memabokkan. Jadi harus ahli dalam memasaknya.

Ada cerita entah betul entah tidak, kalau hanya memasak satu jenis kelamin akan beracun. Tetapi kalau keduanya, racun akan tawar. Kalau ceritera ini betul, laki-laki dan perempuan yang hidup sendiri sepertinya berbahaya. Manusia hidup ditakdirkan berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Dalam berpasangan sudah diberi contoh, seperti “mimi lan mintuna” yang runtang-runtung rerentengan bebarengan sesandhingan rinten dalu enjing sontenMimi adalah nama dalam bahasa Jawa untuk yang berkelamin jantan dan mintuna adalah untuk yang berkelamin betina. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai horseshoe crab. Belangkas mudah ditangkap di tepi-tepi pantai. Sekitar 500.000 belangkas setiap tahun dikumpulkan di pesisir Timur AS, diatur di bawah hukum antarnegara bagian. (sumber wikipedia). Menurut beberapa informasi ikan mimi dan mintuna ini ikan yang ajaib. Kedua ikan tersebut tidak dapat dipisahkan. Jika ikan pasangan ini dipisahkan maka kedua-keduanya dipastikan mati. Keunikan lain dari ikan ini, menurut cerita jika ikan ini dimasak tidak bersamaan maka ikan ini akan beracun, tetapi jika dimasak bersamaan ikan ini dapat dikonsumsi biasa. Maka kemudian filosofi pasangan cinta sejati itu sering digambarkan dengan “mimi lan mintuna”, kesetiaan ikan mimi lan mintuna tiada tandingan saling menjaga setia sampai mati.”Runtung-runtung rerentengan pindha mimi lan mintuna”

 

sumber : http://heryfosil.blogspot.com/2012/09/mimi-lan-mintuno-melambangkan-cinta.html

http://iwanmuljono.blogspot.com/2012/05/mimi-lan-mintuna.html

Entry filed under: budaya. Tags: .

Rakernas AMDAL 2013: Meningkatkan Efektifitas Izin Lingkungan Upacara 17 Agustus 2014 ala Banyuurip Seyegan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


angan keyen


caretan kecil penaku..
kerusakan lingkungan....
pedihnya kaum minoritas..

My account in facebook

My account in yahoo

My account in twitter

Calendar

July 2014
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Blog Stats

  • 51,645 hits

Share this blog

Bookmark and Share
Bookmark

Print and pdf

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

blog-indonesia.com
Best regards,

%d bloggers like this: