SENTONO GENTONG

April 21, 2010 at 1:32 am 1 comment

Mengenal budaya daerah dapat juga melalui kisah-kisah yang pernah dituturkan oleh para pendahulu atau berupa babad. Di bawah ini, saya berbagi sekelumit kisah dalam babad Pacitan dengan harapan pengunjung sekalian dapat memperoleh manfaat atau sekedar menjawab rasa keingintahuan akan budaya Pacitan. Semoga bermanfaat….

SENTONO GENTONG
Puncaknya Gunung Karang yang letaknya di sebelah barat teluk Pacitan ada bekas petilasan (tempat tinggal) orang jaman dulu kala yang berupa Genthong berisi balung (tulang) dan diberi cungkup maupun tungku kecil tanpa tiang, maka tempat ini yang dinamakan SENTONO GENTHONG. Sedangkan genthong tersebut terbuat dari tanah liat dan warna genthong masih kelihatan baru seperti tidak ada tiangnya, ternyata tiangnya ada tapi masing-masing tiang itu kira-kira hanya dua kaki (dua jengkal) dan bentuknya tiang itu bulat dari jenis kayu jati. Sedangkan atap maupun wuwung dan talinya terdiri dari keduk duren (serabut pohon aren) warna maupun bentuknya balung (tulang) yang ada di dalam genthong putih dan gilik atau bulat panjang, seperti tulang-tulang yang lain. Menurut cerita juru kunci tidak sama, dari segi masing-masing orang yang melihatnya tidak sama, misalnya orang yang datang itu melihat balung atau tulang itu terlihat besar dan panjang dan berdiri alamat bahwa orang yang melihat tersebut cita-citanya akan terkabul. Tetapi sebaliknya, apabila ada orang lain melihat isi genthongitu dan lubangnya kering tidak ada air dan balung (tulang) kelihatan glundhung (tidak berdiri) dan kelihatan kecil, maka alamat orang itu akan menjumpai hal-hal yang tidak terkabul dan umurnya pendek.
Pada saar tahun Balenda 1871 balung (tulang) itu hilang serta lambungnya genthong sebelah selatan bocor (betol), adapun hilangnya balung (tulang) tadi tidak jelas, ada yang menceritakan bahwa katanya balung itu diambil Tuan Lamrez, juru tulis kantor (ongko) di Pacitan.
Walaupun sekarang balung itu sudah musnah, tetapi keadaannya orang yang datang berziarah ke tempat itu tidak bedanya seperti pada saat balung itu masih ada, jadi masih banyak juga yang datang ke tempat itu. Adapun yang jadi juru junci di Sentono Genthong orang di dusun Dadapan, jaraknya dusun Dadapan dengan Sentono Genthong kurang lebuh ada tiga perempat pal.
Munurut juru kunci bahwa Sentono Genthong itu katanya tumbalnya Pulau Jawa sedangkan yang numbali saat itu katanya Sultan di Negeri Ngerum. Adapun dongengnya tersebut di bawah ini.
Pada zaman dahulu kala, pulau Jawa masih kosong belum ada yang menempati. Tidak satupun manusia di pulau Jawa ini, di sana-sini semua hanya terdapat hutan dan rawa-rawa. Pada suatu hari Sultan Ngerum menyuruh kerbat Negara (punggawa kerajaan) atau rakyatnya laki-laki maupun perempuan membabat atau membuka pulau Jawa ini. Perintah Sultan Ngerum tadi ternyata terlaksanan atau dilaksanakan oleh rakyat atau penduduk kerajaan Ngerum dan membuat gunugn-gunugn, hutan-hutan dimana-mana dan saat itu pulau Jawa sangat keramat atau angker sekali, menjadi kerajaannya bangsa setan, jin, dan lain-lain yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Oleh karena itu, wadto bolo dari Ngerum tadi mempunyai ilmu untuk menghilangkan atau menyingkirkan bangsa lelembut atau makhluk halus yang ada di situ. Tetapi wadyo bolo dari Ngerum tadi juga banyak yang mati akibat dari makhluk-makhluk halus tersebut. Selanjutnya Sultan Ngerum memerintahkan dan menyuruh seorang Pandita untuk menumbali (syarat) pulau Jawa, maksudnya tanah yang sangar dan kayu-kayu yang angker dapat tawa atau dihindari oleh makhluk-makhluk halus.
Selanjutnya Sultan Ngerum memerintahkan Punggawa Kerajaan beserta dengan wadyo bolonya datang ke tanah pulau Jawa melihat hasil babatan-babatan yang sudah pernah dikerjakan dan ternyata pulau Jawa ini dapat ditempati dan didirikan rumah sampai sekarang ini.
Kisah tersebut, mana yang benar mana yang salah, memang tidak mudah untuk membuat pedoman, tetapi yang jelas Sentono Genthong itu adalah bekas tempat tinggalnya orang jaman dahulu kala, dilihat dari keadaannya seperti itu, benar-benar Sentono Genthhong adalah tempat keramat, sebab wujudnya genthong masih kelihatan baru dan warna merahnya masih terlihat aslii dan tidak terkena lumut maupun kotoran –kotoran yang lain, seperti genthong yang baru dipakai, padahal sudah ratusan tahun yang lalu.
http://www.facebook.com/pages/Pacitan-Indonesia/PACITAN/192796122464#!/notes.php?id=1847345517

Entry filed under: budaya, keilmuan, sejarah. Tags: .

TEORI DAN PERIODISASI KEHIDUPAN PALING AWAL MASYARAKAT DI INDONESIA Kethek Ogleng

1 Comment Add your own

  • 1. Arnandya poetri SemaraDewi  |  May 22, 2010 at 11:19 am

    jadi lebih jelasnya sebelum Pulau Jawa,yang menjadi keterkaitannya bagaimana,bisa di infokan gak?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


angan keyen


caretan kecil penaku..
kerusakan lingkungan....
pedihnya kaum minoritas..

My account in facebook

My account in yahoo

My account in twitter

Calendar

April 2010
M T W T F S S
« Feb   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Archives

Blog Stats

  • 51,645 hits

Share this blog

Bookmark and Share
Bookmark

Print and pdf

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

blog-indonesia.com
Best regards,

%d bloggers like this: