Eksploitasi Berlebihan, Laut Jawa Rusak

April 21, 2010 at 7:07 am Leave a comment

6 April 2010 | Kompas,
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2010/04/16/ 04423164/ eksploitasi. berlebihan. laut.jawa. .rusak

Tegal, Kompas – Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan
menyebabkan kondisi perairan utara Pulau Jawa mulai rusak. Salah satunya
adalah rusaknya terumbu karang sehingga persediaan ikan di perairan tersebut
berkurang. Nelayan terpaksa meluaskan jangkauan melaut hingga ke perairan
pulau lain.

Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan pada Dinas Kelautan dan Pertanian Kota
Tegal, Jawa Tengah, Endang Heryanti, Kamis (15/4), mengatakan, berkurangnya
sumber daya ikan di Laut Jawa akibat penggunaan alat tangkap kurang ramah
lingkungan, antara lain arad dan cantrang. Jaring arad memiliki mata jaring
yang kecil sehingga mampu menangkap ikan dari berbagai ukuran. Jaring
cantrang juga mampu menjaring ikan dari berbagai ukuran karena, setelah
ditebar, ikan diseret menggunakan mesin.

Endang menyebutkan, penurunan produksi ikan mulai terjadi sejak 2005.
Berkurangnya populasi ikan di Laut Jawa juga tecermin dari hasil uji coba
yang dilakukan Balai Pengembangan dan Penangkapan Ikan Jateng bersama Dinas
Kelautan dan Pertanian Kota Tegal tahun 2007. Saat itu, dari satu tebaran
jaring selama sekitar 30 menit, hanya diperoleh 12,5 kilogram ikan dari
berbagai jenis.

Oleh karena itu, pemerintah memberikan bantuan jaring yang lebih ramah
lingkungan kepada nelayan. Bantuan dari dana alokasi khusus yang diberikan
pada 2009 berupa jaring kantong sebanyak 20 unit.

Jaring itu diperuntukkan bagi 71 nelayan tradisional di Kelurahan Muarareja,
Kecamatan Tegal Barat, yang sebelumnya menggunakan jaring arad. ”Jumlah ini
masih kurang sehingga pengadaan akan dilanjutkan tahun ini,” ujar Endang.

Sementara itu, beberapa nelayan di Kota Tegal terus berharap agar Pemerintah
Provinsi Jateng kembali membuka izin baru untuk kapal dengan alat tangkap
cantrang. Toni (35), nelayan kapal cantrang di Kelurahan Tegalsari,
mengatakan, nelayan ngotot menggunakan alat tangkap cantrang karena
terkendala modal.

Harga alat tangkap itu Rp 5 juta-Rp 10 juta per unit, dengan biaya
perbekalan sekali melaut sekitar Rp 40 juta. Sementara alat tangkap lain,
seperti gilnet dan mini-purseseine, mencapai sekitar Rp 300 juta. Biaya
perbekalan sekali melaut untuk jenis kapal tersebut juga sekitar Rp 100 juta
sekali melaut. (WIE)

Entry filed under: lingkungan. Tags: .

Manyanggar, Membersihkan Bumi dari Bahaya Bencana Pecinta Alam Indonesia Abad 21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


angan keyen


caretan kecil penaku..
kerusakan lingkungan....
pedihnya kaum minoritas..

My account in facebook

My account in yahoo

My account in twitter

Calendar

April 2010
M T W T F S S
« Feb   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Archives

Blog Stats

  • 51,645 hits

Share this blog

Bookmark and Share
Bookmark

Print and pdf

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

blog-indonesia.com
Best regards,

%d bloggers like this: