Song Terus situs manusia di Pegunungan seribu

April 19, 2010 at 8:17 am Leave a comment

Bukti-bukti tentang keberadaan Song Terus, yang pernah dipakai sebagai ajang kegiatan dan tempat hunian manusia masa lalu, telah dibuktikan melalui berbagai temuan hasil penggalian (ekskavasi) arkeologis secara sistematis sejak tahun 1994 sampai sekarang. Berbagai macam temuan yang dihasilkan sudah mencapai hitungan puluhan ribu sejak dalam penelitian dekade 5 tahun belakangan ini. Secara nyata, Song Terus telah memberikan andil yang sangat besar dalam peranannya sebagai salah satu sumber data sejarah pada masa lalu di Pacitan pada khususnya dan Pegunungan Sewu pada umumnya. Jejak-jejak tinggalan budaya berupa industri alat batu (litik), seperti: alat-alat masif dan serpih-bilah, alat-alat tulang, dan cangkang kerang (ada yang dipakai sebagai perhiasan: anting) serta berbagai macam temuan sisa fauna dan manusia yang terdapat di sini telah memberikan petunjuk dan mengisyaratkan adanya sebuah “Museum Hidup” gua hunian manusia masa lalu yang sarat akan tinggalan arkeologis.

Jejak budaya berupa alat-alat batu (litik) di Song Terus merupakan temuan yang paling melimpah disamping temuan sisa-sisa tulang hewan (fauna). Pada umumnya, alat-alat litik tersebut memperlihatkan dua perbedaan yang mencolok dipandang dari aspek geologis (stratigrafi), morfoteknologis, dan bahan baku (raw materials). Ciri-ciri temuan yang terdapat di lapisan bagian atas penggalian memperlihatkan corak budaya dari Mesolitik dengan industri alat serpih (dari bahan baku lebih segar) dan industri tulang, sedangkan di lapisan bagian bawah merupakan industri yang cenderung lebih masif (dengan ciri utama patinasi tebal dan teroksidasi) yang mencirikan budaya Palaeotilik. Dari hasil identifikasi (sementara) terhadap temuan industri litik di Song Terus, diketahui adanya beberapa tipe kategori kelompok alat, yaitu kelompok alat-alat masif yang bentuknya cenderung lebih besar daripada kelompok non-masif (serpih bilah). Jenis kelompok alat-alat masif tersebut antara lain: kapak penetak (chopping tools), kapak perimbas (choppers), batu pukul (hammers), dan serpih-serpih yang tergolong besar, sedangkan kelompok alat-alat non-masif diantaranya adalah serpih-serpih yang mempunyai ciri jejak-jejak pemakaian, antara lain: bilah (blades), serut samping (side scrapers), serut cekung (notched scrapers), serut ujung (end scrapers), lancipan (point), dan gurdi (borer).

Dalam kaitannya dengan eksploitasi sumber daya fauna di Song Terus, tampak jelas dengan dibuktikannya sejumlah temuan yang sangat melimpah dan padat pada setiap kotak penggalian. Sisa-sisa fauna tersebut berupa tulang-tulang yang masih utuh maupun fragmentaris, gigi-geligi, dan bagian tengkorak yang bercampur dengan peninggalan-peninggalan artefak dan ekofak lainnya. Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap temuan sisa-sisa fauna tersebut, diketahui terdapat empat kelas golongan “penghuni” vertebrata di Song Terus, yaitu jenis ikan (kelas Pisces), jenis fauna melata (kelas Reptilia), jenis unggas (kelas Aves), dan jenis hewan menyusui (kelas Mamalia). Di antaranya, yang sangat dominan adalah jenis monyet/ kera (Macaca sp), jenis kerbau, sapi, dan banteng (Bovidae) serta jenis kijang dan rusa (Cervidae).

Pemanfaatan sumber daya fauna di Song Terus tersebut ternyata tidak hanya dipakai sebagai bahan makanan (konsumtif) saja, namun dari beberapa data yang diperoleh memperlihatkan beberapa pecahan tulang yang dimanfaatkan sebagai alat, terutama jenis tulang panjang dan tulang betis, serta tanduk dari hewan Macaca sp, Hovidae, dan Cervidae. Alat-alat tersebut pada umumnya berbentuk sudip (spatula) lancipan dan jarum.

Eksploitasi sumber daya fauna di Song Terus ternyata tidak hanya terbatas pada fauna darat (terutama dari filum Vertebrata) saja, tetapi juga dari biota marin (laut). Sampai sejauh ini, jenis temuan cangkang kerang di Song Terus merupakan temuan yang cukup banyak setelah industri litik dan sisa-sisa fauna. Dari identifikasi sisa cangkang kerang tersebut menunjukkan bahwa ini berasal dari filum Moluska, yang terdiri dari kelas Gostropoda, Pelecypoda, dan Chepolopoda. Pada umumnya, jenis cangkang kerang dari famili Veneridoe merupakan temuan yang paling dominan dan banyak dimanfaatkan sebagai alat dengan bentuk serut (scrapeks). Keberadaan sisa-sisa fauna di dalam konteks budaya dan hunian di Song Terus jelas memperlihatkan keterikatan yang erat dengan manusia penghuni gua. Fauna tersebut kemungkinan diperoleh dari daerah sekitar melalui perburuan dan pencarian di sungai, telaga atau di daerah pantai.

Keberadaan tinggalan budaya di Song Terus sangat erat kaitannya dengan sisa-sisa manusia yang diperkirakan sebagai penghuni gua itu sendiri. Dari hasil penelitian yang dilakukan selama ini, tinggalan sisa-sisa manusia yang diketemukan di Song Terus sangat terbatas sekali, dan secara kuantitas sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan temuan lainnya. Pada umumnya, temuan tersebut berwujud fragmen (pecahan) tengkorak, tulang-tulang jari, dan gigi-gigi lepas yang tersebar tidak merata pada setiap kotak ekskavasi. Namun, apabila hal itu dikaitkan dengan beberapa temuan sisa-sisa manusia dan ciri-ciri temuan yang sama dari situs gua-gua hunian lainnya di Jawa Timur, sistem hunian dan tata cara penguburan di dalam gua/ ceruk memperlihatkan corak budaya yang berkembang pada masa Mesolitik, seperti halnya di Song Keplek, Gua Lawa (Sampung), dan Song Gentong (Tulungagung).

Dari hasil analisis beberapa sampel arang, tanah (sedimen), dan batuan di dalam konteks budaya di Song Terus, berhasil diketahui sejarah hunian yang cukup unik yang mencapai kurun waktu yang sangat panjang. Dari hasil penanggalan, diketahui bahwa situs ini minimal mempunyai dua ciri hunian yang berbeda ditinjau dari segi krono-budaya. Di bagian atas merupakan ciri budaya Mesolitik dengan materi utama industri litik dan tulang yang berlangsung antara 5.770 – 8.340 BP, sedangkan di bagian bawah merupakan industri yang cenderung lebih masif dan bercirikan budaya Palaeolitik yang berlangsung antara 56.000 – 160.000 BP. Penanggalan tersebut sangat menarik karena ternyata lapisan budaya yang berkembang jauh lebih awal itu berakar pada masa Plestosen. Hal ini membuktikan bahwa Song Terus merupakan situs hunian yang mempunyai “cultural sequence” yang panjang. Di bagian atas yang merupakan ciri lapisan Mesolitik mempunyai umur yang sama dengan situs Song Keplek, dan di bagian bawah yang bercirikan lapisan budaya Palaeolitik diperkirakan sudah ada dari kala Plestosen Atas.

Sumber:
Penulis: Jatmiko
Desain Grafis: Rn. Dian Ridwan
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Proyek Pengembangan Media Kebudayaan
Tahun 1999/2000

Entry filed under: budaya, sejarah. Tags: .

Pernikahan ala agama Pacitan, Ibukota Prasejarah Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


angan keyen


caretan kecil penaku..
kerusakan lingkungan....
pedihnya kaum minoritas..

My account in facebook

My account in yahoo

My account in twitter

Calendar

April 2010
M T W T F S S
« Feb   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Archives

Blog Stats

  • 51,645 hits

Share this blog

Bookmark and Share
Bookmark

Print and pdf

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

blog-indonesia.com
Best regards,

%d bloggers like this: