Convention On Biological Diversity

May 30, 2008 at 11:47 am 1 comment

Pengesahan Cartagena Protocol On Biosafety To The Convention On Biological Diversity

Press release Pada Rapat Paripurna Dewan 16 Juli 2004

PENGESAHAN CARTAGENA PROTOCOL ON BIOSAFETY TO THE CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (PROTOKOL CARTAGENA MENGENAI KEAMANAN HAYATI ATAS KONVENSI TENTANG KEANEKARAGAMAN HAYATI):

  1. Berdasarkan pendapat akhir dari Fraksi-fraksi dalam Komisi I DPR RI pada tanggal 16 JuLi 2004, Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia telah menyetujui Undang-Undang Pengesahan Cartagena Protocol on Biosafety to the Convention on Biological Diversity (Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati atas Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati).

  2. Protokol Cartagena merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity/CBD), bertujuan untuk menjamin tingkat proteksi yang memadai dalam hal perpindahan, penanganan, dan pemanfaatan yang aman dari perpindahan lintas batas organisme hasil modifikasi genetik/OHMG (living modified organism/LM0), termasuk pangan, pakan, dan pengolahan.

  3. Bioteknologi adalah penerapan teknologi yang memanfaatkan system hayati, makhluk hidup atau turunan/derivatifnya untuk membuat atau memodifikasi suatu produk atau proses untuk penggunaan tertentu. Dalam Protokol Cartagena, bioteknologi modern adalah penerapan:

    1. teknik asam nukleat in vitro, termasuk asam deoksiribonukleat (DNA) rekombinan dan injeksi langsung asam nukleat ke dalam sel-sel atau organel-organel; atau

    2. fusi sel-sel yang berada di luar keluarga taksonomi, yang mengatasi hambatan reproduktif fisiologis alam atau rekombinan dan yang bukan merupakan teknik yang digunakan dalam pemuliaan dan seleksi tradisional.

Manfaat bioteknologi di beberapa sector, antara lain:

    1. sektor pertanian: dapat digunakan untuk mengatasi masalah kekurangan pangan dan gizi;

    2. sektor kesehatan: dapat memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat;

    3. sektor lingkungan hidup: hasil bioteknologi modern dapat digunakan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.

  1. Sebagai negara yang sedang membangun Indonesia perlu mengembangkan bioteknologi modern yang aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Di satu sisi, dengan jumlah penduduk nomor 5 terpadat di dunia, Indonesia harus terus mengupayakan berbagai alternatif pengadaan pangan agar dapat memenuhi kebutuhan pangan. Di sisi lain, jumlah penduduk tersebut menimbulkan masalah baru berupa pemenuhan pengadaan papan. Hal tersebut, lambat laun menyebabkan semakin sempitnya lahan di bidang pertanian/perkebunan.

  2. Hal lain, keadaan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan strategis di antara dua benua dan dua samudera menjadikan Indonesia sangat rentan terhadap lalu lintas perdagangan organisme hasil modifikasi genetik yang ilegal.

  3. Manfaat bagi Indonesia, apabila meratifikasi Protokol Cartagena, antara lain:

    1. meningkatkan pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan;

    2. meletakan landasan dan sumber hukum internasional yang berlaku sebagai hukum nasional untuk dikembangkan dan dilaksanakan, terutama dalam menjamin tingkat keamanan hayati kegiatan perpindahan lintas batas OHMG;

    3. mendapatkan manfaat optimal dari penggunaan bioteknologi modern secara aman agar tidak merusak keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia;

    4. mempersiapkan kapasitas daerah untuk berperan aktif dalam melakukan pengawasan dan pengambilan keputusan atas perpindahan lintas batas OHMG;

    5. meningkatkan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia di bidang keamanan hayati di pusat dan dan di daerah;

    6. memperkuat koordinasi nasional dan daerah dalam pemahaman lalu lintas OHMG serta koordinasi

  4. Isu penting yang muncul dalam pembahasan Pengesahan RUU Protokol Cartagena adalah:

    1. perlunya membentuk jaringan kerja sama dalam hal pertukaran informasi tentang bioteknologi dan keamanan hayati secara internasional melalui Biosafety Clearing House Mechanism. Dengan demikian, Indonesia dimungkinkan memperoleh bantuan merupa technical assistance untuk pengembangan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia di bidang keamanan hayati;

    2. perlunya melakukan kajian secara komprehensif tentang berbagai implikasi multidimensial yang mungkin akan muncul, yang dalam jangka panjang akan mendatangkan kerugian materil dan inmateril;

    3. perlunya dikaji dan dikelola atas manfaat yang dapat dirasakan secara langsung setelah Indonesia meratifikasi Protokol Cartagena ini;

    4. perlu adanya upaya terpadu dan sungguh-sungguh dalam pengembangan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia di daerah-daerah, terutama dalam rangka pengamanan lalu lintas OHMG yang berpeluang masuk ke Indonesia melalui pelabuhan-pelabuhan di daerah;

    5. dapat menjawab kepentingan nasional kita, antara lain: dapat mensejahterakan masyarakat dengan memberikan nilai tambah serta dapat melestarikan sumber hayati tanpa merusak lingkungan yang sudah ada.

Jakarta, 16 Juli 2004

Asisten Deputi Kajian Lingkungan Internasional Kementerian Lingkungan Hidup, ttd. Inar Ichsana Ishak

TAMBAHAN INFORMASI :

Penetapan Prosedur Pengkajian Resiko Lingkungan pada Produk Rekayasa Genetika

Latar Belakang :

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan penerapan Konvensi Keanekaragaman Hayati, yang diratifikasi oleh Indonesia melalui Undang-undang No.5 tahun 1994, Indonesia turut serta dalam pembahasan dan penandatanganan Protokol Keamanan Hayati (Biosafety Protocol) pada tanggal 28 Januari 2000 di Montreal Canada. Cartagena Protocol on Biosafety ini mencantumkan ketentuan mengenai transfer, penanganan dan pemanfaatan organisme hidup yang yang termodifikasi, terutama yang memiliki dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati. Prasyarat kehati-hatian dalam pengalihan organisme hidup termodifikasi serta pengkajian yang mendalam terhadap resiko yang mungkin ditimbulkan oleh pengalihan, menjadi ketentuan penting dalam protokol ini. Dengan berlakunya Protokol Cartagena di bidang keamanan hayati, Indonesia sebagai salah satu negara yang menandatangani protokol mempunyai kewajiban untuk mempersiapkan perangkat yang diperlukan untuk implementasi Protokol tersebut.

Sebagaimana diamanatkan dalam pasal 15 RPP Keamanan Hayati dan Annex III Protocol Cartagena, maka setiap negara pihak diwajibkan untuk menyusun Pedoman Pengkajian Risiko Lingkungan PRG sebagai acuan bagi pelaksanaan pengujian keamanan hayati secara nasional, yang transparan dan mengakomodasi kepentingan lingkungan hidup.

Pengkajian risiko lingkungan merupakan kegiatan ilmiah untuk mengevaluasi pengaruh potensial dari suatu benda atau mahluk hidup dan aplikasinya guna menentukan kemungkinan terjadinya dampak negatif dan mengkarakterisasi pengaruh tersebut. Kegiatan ini merupakan suatu proses untuk memperoleh ukuran kuantitatif dan kualitatif dari tingkat resiko, termasuk kemungkinan terhadap kesehatan dan lainnya.

Kajian risiko lingkungan yang berkaitan dengan segala aspek produk bioteknologi hasil rekayasa genetika terhadap lingkungan dan kesehatan manusia merupakan kewajiban pemrakarsa Untuk itu itu perlu adanya suatu pedoman yang dapat diaplikasikan pada pengembangan dan pemanfaatan produk bioteknologi hasil rekayasa genetika, sehingga memudahkan pemrakarsa dalam menganalisa dan memahami potensi resiko dan dalam menyusun pengelolaan resikonya.

Tujuan diadakan kegiatan penetapan prosedur pengkajian resiko lingkungan pada produk rekayasa genetika adalah menjembatani keperluan pengembangan bioteknologi melalui perekayasaan genetika dengan menyiapkan instrumen analisis resiko sehingga dapat dirumuskan langkah langkah pengelolaan resiko yang diperlukan.

Pelaksanaan dan hasil kegiatan :

Prosedur PRL PRG yang disusun merupakan penyempurnaan dari Pedoman Pelaksanaan Pengujian Keamanan Hayati Produk Bioteknologi Hasil Rekayasa Genetik yang diterbitkan oleh Badan Litbang Deptan yang mengacu pada SKB 4 Menteri. Prosedur yang akan disusun dikelompokkan dalam 6 seri yaitu Seri Umum, Tanaman, Hewan, Jasad Renik, Pangan dan Pakan.

Berdasarkan Pedoman yang akan disusun, maka dibentuk 6 kelompok kerja dengan anggota berasal dari Deptan, Badan POM, KLH, LIPI dan beberapa Universitas. Selain itu, bersama-sama Fakultas Pertanian UGM, KLH menyusun Prosedur Pengkajian Risiko Lingkungan khusus tanaman transgenik.

Hasil yang telah dihasilkan pada kurun waktu 2003 adalah draft Seri Umum, Tanaman, Hewan, Jasad Renik, Pangan dan Pakan, namun yang telah disepakati oleh seluruh anggota POKJA adalah Pedoman Umum dengan pertimbangan bahwa Pedoman ini dapat menjadi payung bagi pengujian lainnya. Dengan demikian pedoman lainnya harus sinkron dengan pedoman umum dan memiliki pendekatan yang sama.

Dalam melakukan pengkajian, Tim Teknis akan dibantu oleh Tim Pengkaji yang keanggotaannya antar dep. Setelah Pelepasan, pengkajian dilakukan oleh Komisi /Tim Pelepasan Varietas dengan perlakuan yang sama dengan jenis-jenis konvensional. Namun demikian PRG tetap memiliki kekhususan, sehingga masih diperlukan manajemen risiko. Sebagaimana amanat dalam RPP Keamanan Hayati, unsur pemantauan dan pengendalian serta penarikan merupakan komponen dalam pengelolaan risiko.

Khusus tanaman transgenic terutama kapas Bt, telah dimulai sejak tahun 2000. Hingga saat ini pelepasan tanaman transgenic masih menjadi pro dan kontra terutama berkaitan dengan kekhawatiran risiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Prinsip kehati-hatian merupakan ketentuan penting yang tercantum dalam Cartagena Protocol on Biosafety.

Dengan demikian pengkajian risiko lingkungan dilakukan untuk mengambil keputusan bahwa tanaman transgenik yang bersangkutan dapat diterima dan ditanam sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, atau dapat diterima dengan syarat adanya pengembangan manajemen risiko untuk mengurangi risiko yang ada sampai pada tingkatan yang dapat diterima, atau memutuskan bahwa tanaman transgenik tidak diijinkan untuk dimanfaatkan.

Prosedur PRL yang disusun menganut asas komprehensivitas (menyeluruh) dengan mempertimbangkan asas kelayakan (feasibility). Hal ini berarti bahwa semua faktor biotik maupun abiotik dipertimbangkan untuk digunakan sebagai indikator, tetapi dalam pelaksanaannya dilakukan pemilihan yang dapat mewakili kelompoknya, misal berdasarkan fungsinya dalam ekosistem.

Kriteria pengkajian tanaman transgenik meliputi (1) potensi tanaman transgenik menjadi gulma pada areal pertanian atau merusak habitat alam; (2) potensi perpindahan gen (gene flow) ke kerabat liar sehingga menjadi gulma yang lebih merusak; (3) potensi berdampak pada organisme bukan sasaran; (4) potensi berdampak pada keanekaragaman hayati. Selain kriteria yang dikaji tersebut, perlu dipelajari faktor-faktor dalam penilaian risiko yang berkaitan dengan organisme tetua, unsur genetik, fenotip dari produk bioteknologi hasil rekayasa genetik, dan aspek lingkungan.

Pengkajian dan hasil pengkajian harus dilaporkan dengan menyertakan pihak terkait yang melakukan pengkajian dan bertanggung jawab terhadap isi laporan. Laporan harus ditandatangani oleh ilmuwan senior dari lembaga yang bertanggung jawab terhadap langkah-langkah pelaksanaan pengkajian. Selain itu, laporan harus menyertakan salinan asli laporan penelitian laboratorium pelaksana pengkajian, prosedur pengkajian, organisme uji yang digunakan, lingkungan pengkajian, perlakuan dan takaran bahan racun yang dikaji.

Tindak lanjut :

Pedoman Pengkajian Risiko Lingkungan untuk produk-produk rekayasa genetik tidak hanya pada tanaman transgenic, dapat terus dikembangkan melalui integrasi antara metode pengkajian risiko yang sekarang ini digunakan dengan pengetahuan dan data baru yang diperoleh dari hasil penelitian.

Berdasarkan Annex III Protokol Cartagena yang mengamanatkan kewajiban pengaturan pengkajian risiko lingkungan, maka penyusunan pedoman pengkajian risiko lingkungan organisme hasil rekayasa genetik (OHM) untuk hewan, pangan, pakan dan jasad renik akan disusun sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kondisi di Indonesia.

Entry filed under: keilmuan, lingkungan. Tags: .

KAMASUTRA JAWA – Tipe Wanita Jawa Ideal SEJARAH KOTA YOGYAKARTA

1 Comment Add your own

  • 1. santi  |  October 27, 2010 at 9:57 am

    artikel yang menarik,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


angan keyen


caretan kecil penaku..
kerusakan lingkungan....
pedihnya kaum minoritas..

My account in facebook

My account in yahoo

My account in twitter

Calendar

May 2008
M T W T F S S
« Mar   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives

Blog Stats

  • 51,645 hits

Share this blog

Bookmark and Share
Bookmark

Print and pdf

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

blog-indonesia.com
Best regards,

%d bloggers like this: