Traveling At Ambon

February 19, 2008 at 3:45 am 4 comments

Pagi itu terpaksa dengan kantukku aku bangun dan segera menuju kamar mandi, cuci muka, maklum cuaca dingin saat itu, di Yogyakarta Hadiningrat, kediamanku. Dengan masih berbalut kantukku terpaksa kuteriak TAKSI untuk membawaku ke Bandara Adi Sucipto, Bandara yang terhebat yang ada di Yogyakarta. Kulirik jam tangan ku masih menunjukkan pukul 06.00 WIB. Masih pagi bagi ukuran aku yang biasa bangun siang. Karena aktivitas malamku lebih berharga dari aktivitas siangku hehehe..

Jam 06.15 ku sampai di bandara dan langsung chek in. Hari ini dimulailah petualangan seorang pemuda asal Yogyakarta tepatnya di Jalan Cik Di Tiro, jantung kota Yogyakarta, dimana tempat aku dilahirkan kembali, ditempa, dan dibesarkan. Untuk pergi kepulau seberang dan kata orang bernama Ambon itu dengan plat nomor kendaraan nya DE itu. Ambon Manise mungkin lebih familiar dengan sebutan itu. Setelah membayar beberapa uang lima ribuan kukatupkan pintu taksi bersemangat, rasanya sudah tidak sabar segera menapakkan kakiku di Ambon. Kulihat di papan Keberangkatan pesawat dan keberangkatan ke Ambon adalah pukul 07.00 WIB.

Perjalanan Yogyakarta ambon transit di tiga bandara, Surabaya dan Makasar.

Mendekati siang masih terasa dan hawa ac pesawat tercium dan sedikit bercampur dengan bahan bakar pesawat, saat ku buka mataku ketika pesawat akan mendarat di Ambon karena Pramugari yang cantik memperingatkan penumpang untuk memakai sabuk pengamannya. Ku melongok ke luar jendela dan samar terlihat beberapa pulau. Pulau Haruku, Pulau Seram, Pulau Saparua, dan Pulau Ambon. Itu yang di bilang seorang Bapak yang kelihatannya orang asli Ambon dan sudah sering melihat dari atas hamparan yang barusan kulihat.

Pesawat mulai terbang merendah, terlihat mengkilau menyilaukan mata, seng sebagai atap rumah yang disinari sang Matahari kembali Bapak di sebelah aku memberi penjelasan mengusir rasa penasaranku.

Tak selang beberapa lama pun pesawat mendarat, bau angin laut tercium setelah beberama waktu yang lama tadi aku membaui AC di pesawat. Kutarik napas dalam – dalam dan dalam hati ku berbisik lirih aku di Ambon.

Ojek kuteriakkan untuk membawaku ke Waiheru, tempat tujuan aku, segera meluncur mobil untuk mengangkut ku dan beberapa barang bawaan ku. Kubilang lirih ke Bapak tukang ojek itu “Perumnas Waiheru bang…”

Ambon…

Manise…

Memang indah kota Ambon, tak salah orang menyebut Ambon Manise, perjalanan agak memakan waktu lama untuk mencapai Waiheru sekitar satu jam lebih.

Sampai di Waiheru tempat salah satu kolegaku yang beberapa waktu yang lalu kukenal di Yogyakarta di Mall Malioboro tepatnya, ketika kami berdua bertemu untuk berbelanja di beberapa batik di jalan teramai di Yogyakarta itu. Tepat di tulisan papan besar CV. ERFINS JAYA ABADI engineer, architect, management cunsultan, telp : (09911)3300285. kuhentikan ojek, stop pak.

Ku Ketok pintu, tiga kali ku ketok..siapa ya…? sembari membuka pintu wajah yang beberapa saat yang lalu kutemui di Malioboro kini kutatap kembali. Beberapa pegawainya keluar dengan seragamnya yang bertuliskan CV. ERFINS juga dengan warna merah yang mencerminkan semangat mereka.

Masuk..silakan masuk…sapanya ramah…Sang Direktur CV ERFINS, kelihatan berwibawa.

Dan dia menunjuk seorang wanita untuk segera membawa barang bawaanku. Bercerita tentang perjalanan ku Dari Yogyakarta sampai dengan kuinjakkan kaki di Ambon, kemudian pun beliau bercerita banyak tentang Ambon. Dengan pisang goreng dan segelas teh sambil di temani sebungkus rokok yang dari kemarewn ku beli dan belum kuhabiskan. Panjang lebar kudengar ceritanya tentang segala sesuatunya tentang Ambon ini, dan cerita ini pun sudah beberapa kali kubaca di Internet. Berbeda keadaan aku membaca itu di Yogyakarta, Namun sekarang ku dengar cerita itu di Ambon. Kutertarik ketika beliau menceritakan pantai Natsepa dan Pantai Liang.

Besok kita kesana kata nya di akhir ceritanya…oke sekarang istirahat dulu tapi sebelumnya makan dulu, ada Papeda tuh tawarnya. Iya kataku penasaran. Papeda terbuat dari sari pohon sagu yang sudah diendapkan. Cara pembuatan termasuk mudah. Mula-mula tepung sari sagu dilumerkan dengan air dingin secukupnya di dalam sempe (wadah dari tanah liat). Papeda sagu di masak layaknya bubur yang dimakan dengan sejenis kuah yang rasanya manis, asin dan masam. Nikmat rasanya wuih nikmat…… Jika ingin mendapatkan cita rasa asam dan sepat, bisa ditambahkan campuran perasan air buah tomi-tomi. Setelah itu adonan di dalam sempe tadi disiram dengan air mendidih sambil diaduk-aduk dengan aru-aru (sendok panjang terbuar dari kayu) hingga berubah bentuk seperti jeli. Papeda selanjutnya siap dihidangkan. Akan sangat nikmat kalau papeda tersebut dimakan bertemankan ikan berkuah kuning, yang diramu dengan bumbu tertentu.

Kenyang terasa di perut dan segera ku langsung istirahat……..

Kota Ambon adalah ibu kota provinsi Maluku, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 377 km².658.294,69 km2 lautan 54.185 km2 daratan 632 pulau besar dan kecil. Begitu beberapa yang lalu ketika kubaca di Wikipedia.

Pagi itu alarm HP ku berbunyi pukul 04.30 WIB saat itu segera ambil wudhu dan kutunggu suara azan berkumandang wuih lama betul…koq belum adzan – adzan ya pikirku dalam hati.

Penasaran dan tak sengaja kutatap jam dinding rumah masih pukul 01.30 WIT walah iya lupa WIT (waktu indonesia bagian timur). segera kutidur lagi.

Kemudian ku bangun lagi pukul 05.00 WIT sekarang jam tangan Suunto ku sudah menyesuaikan dengan WIT dengan chrono WIB dan WIT heheheeh….

Setelah sholat akhirnya ku mandi, dan segera prepare untuk persiapan traveling ke Pantai Natsepa.

Bebarengan dengan itu juga aktivitas kegiatan perkantoran CV. ERFINS mulai kelihatan.

Pantai Natsepa di desa Suli, Pantai Natsepa merupakan pantai yang indah dengan pemandangan lepas pantainya. tersedia bangku-bangku kecil untuk duduk untuk sembari menikmati Es Degan Asli Ambon. Segera ku berpose dengan ber-background Pantai Natsepa ini. Pantai Natsepa berada di pinggir jalan beraaspal di Ambon. Telihat banyak orang mengenakan kalung, kalung besi putih ternyata setelah mendengar penjelasan dari Direktur CV ERFINS, maluku merupakan salah satu penghasil terbesar besi putih, selain sebagai penghasil besi putih, Maluku juga terkenal sebagai penghasil Minyak kayu putih yang kesohor.

Setelah puas hati menikmati pemandangan di Pantai Natsepa selanjutnya bergerak ke Pantai Berikutnya.

Pantai Liang atau Pantai Hunimua di Liang yang telah kami bicarakan semalam, orang sering menyebut nya Pantai Liang meskipun nama aslinya adalah Pantai Hunimua yang berada di pesisir utara pulau Ambon berhadapan langsung dengan pesisir Barat pulau Seram itu. Setelah sesampainya disana dan juga setelah membayar retribusi untuk karcis masuk ke Pantai. Pantai Hunimua adalah salah satu icon pariwisata Maluku yang dikelola dengan cukup baik oleh dinas Pariwisata. Pantai ini berjarak sekitar 37 Km dari pusat kota Ambon, dan dapat ditempuh selama 45 menit perjalanan dengan menggunakan mobil atau sepeda motor. Tinggal melanjutkan perjalanan selama 15 menit untuk sampai ke tempat Pantai Liang dari Pantai Natsepa. Tentunya terlebih dahulu anda akan melewati desa Tulehu dan Waai yang juga memiliki lokasi wisata alam yang tidak kalah unik. membayar karcis masuk sebesar Rp. 2500 per orang. Mobil berjalan pelan untuk meng- ormed (maap Mapala Unisi kupinjam kata – katanya ormed = orientasi medan, pen) di mana titik mantap untuk menikmati pemandangan yang tiada taranya ini. Ikan bakar dan colo-colo adalah pengganjal yang pas untuk mengisi perut. Gurihnya ikan bakar segar yang baru ditangkap nelayan setempat dan rasa colo-colo yang masam dapat menambah nafsu makan. Jangan lupa mencicipi es kelapa muda sebagai minuman penutup sekaligus penyegar dahaga dalam cuaca yang panas.

Begitu pertama kali menatap pantai ini, pantai ini terlihat bersih masih natural. Seperti belum tersentuh tangan jahil manusia.

Beberapa orang menawarkan tikar untuk duduk dan juga disertai para penjaja ban dalam menjajakan ban nya bagi yang berminat untuk mandi air laut sambil bersantai menikmati pantai, tanpa babibu lagi langsung saja kusewa satu tikar dan satu buah ban untuk menikmati Pantai Liang yang kesohor ini. Aku dapat berenang dipantai yang relatif dangkal ini. Cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp. 5 ribu hingga 10 ribu, anda dapat mengapung-apung dia atas laut dengan bantal renang yang terbuat dari bekas ban dalam mobil itu. Setelah puas berenag, segera kubilas tubuhku dengan air bersih yang telah disediakan di beberapa kamar mandi yang tersebar sepanjang lokasi. Namun ketika tidak ada air para penjaja pun menawarkan air bersih dengan 1000/jerigen.

Mendekati sore hari akhirnya setelah badan capek, tenaga sudah habis akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali ke Waiheru. Tapi berencana mampir dulu ke Kota Ambon, Kita mampir Amplaz. Apaan tu Amplaz tanyaku. Kalo di Yogyakarta ada Ambarukmo Plaza nah kalau di Ambon ini kami punya Ambon Plaza yang sama-sama disingkat dengan Amplaz. Disini aku membeli beberapa cindera mata seperti besi putih dengan berbagai model (cincin berbagai model dan juga kalung dengan berbagai model juga) dan minyak kayu putih asli Ambon. Terlihat Patung salah seorang pejuang kemerdekaan, Patimura, dengan pedangnya dengan gagah. Kami juga mampir di Jalan Aipati jalan yang layak dikunjungi jika kita berada di Ambon.

Dimalam hari nya sambil menonton televisi dan kembali membahas tentang obyek wisata yang di Ambon. Dan dirasa cukup kami pun membahas tempat wisata yang lain yang terletak di Pulau Seram. Dalam forum ini saya juga ditemani oleh beberapa staf CV ERFINS yang masih lembur untuk mngerjakan tugasnya.

Malam ini terasa tidurku masih terasa mimpi bahwa aku berada di Ambon.

Berencana berangkat sore hari karenanya saya pun mempersiapkan segala sesuatu nya..

Perjalanan ke Pulau Seram direncanakan menggunakan kapal cepat. Tempat yang dituju adalah desa Tulehu tempat penyeberangan menuju pulau seram yakni desa Amahai. Tulehu merupakan asal beberapa pemain bola yang mengisi kancah dunia persepak bolaan Ligina. Sebagai tempat persinggahan yang terdekat menuju Pulau Seram. Perjalanan menggunaan kapal cepat bermesin dua dengan kapasitas sekitar untuk 100 orang. Kapal ini bernama Pamahanu Nusa. Dengan uang 75.000 rupiah/per orang untuk membayar penyeberangan yang mengasikkan ini. Keberangkatan penyeberangan kapal cepat ini dua kali dalam satu hari pagi dan sore hari.

Perjalanan melintasi laut yang notabenenya banyak mengandung ikan yang menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Pulau Seram dan sekitarnya. Perjalanan kurang lebih selama 2 jam. sepanjang perjalanan selain deru ombak terdengar juga terlihat beberapa pulau-pulau kecil antara Pulau Ambon dan Pulau Seram. Yakni Pulau Haruku, Nusa Laut, Saparua,

Pulau Saparua merupakan bagian dari kepulauan Lease bersama-sama dengan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut. Pulau yang menjadi tempat lahirnya pahlawan Pattimura ini memiliki pantai yang indah. Di sini juga terdapat Benteng Duurstede yang dibangun Belanda pada tahun 1676 untuk menghadapi serangan Portugis. Di dekat benteng ini terdapat lokasi Pantai Waisisil yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Pattimura dan Belanda. Di lokasi benteng terdapat museum yang mempertunjukan diorama dari perjalan sejarah masyarakat Maluku termasuk perlawanan Pattimura. Pulau Saparua juga memiliki lokasi pantai dengan perairan yang bagus untuk kegiatan snorkeling yaitu di Kollor; di depan Putih Lessi Indah Cottages. Pada jarak beberapa ratus meter dari pantai terdapat Gua Tujuh Puteri yang memiliki kolam renang. Seorang Bapak langsung bercerita panjang lebar padahal aku hanya menanyakan itu Pulau apa Pak?

Pulau Haruku pada masa lalu merupakan salah satu basis pertahanan Belanda terkuat di Maluku. Di pulau ini terdapat Benteng New Zeland dan Benteng Neuw Horn yang sudah sangat tua namun masih menarik untuk dikunjungi. Pulau yang memiliki kawasan pantai yang indah namun agak terpencil ini –antara lain seperti Pantai Hulaliu- pernah menjadi lokasi pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dan tentara Jepang pada saat Perang Dunia ke II. Cerita bapak itu kembali, begitu melewati Pulau Haruku.

Lah kalau yang itu Pulau Nusa Laut. Pulau Nusa Laut memiliki pantai yang masih sangat alami; belum tersentuh oleh perkembangan industri pariwisata. Di sini terdapat sebuah gereja tua peninggalan kolonial dan juga Benteng Beverwyk peninggalan Belanda. Pejuang Maluku yang gigih –bapak pahlawan wanita Martha Christina Tiahahu- ditangkap Belanda di pulau ini pada saat melancarkan perlawanan menentang Belanda. Pulau ini belum memiliki fasilitas akomodasi namun wisatawan dapat menghubungi kepala desa di Ameth yang bersedia menyediakan kamar bagi pengunjung.

Samar terlihat Pulau Seram didepan mataku, Pulau Seram merupakan pulau terbesar kedua di Propinsi Maluku yang meliputi luas wilayah 171.151 Km2. Sebagian besar daratan Pulau Seram merupakan kawasan pegunungan yang ditutupi hutan yang cukup lebat. Sebagian orang Maluku menyebut Pulau Seram dengan nama Nusa Ina yang berarti Pulau Ibu karena pulau ini dipercaya sebagai tempat asal mula nenek moyang masyarakat Maluku tengah. Wilayah pedalaman Pulau Seram pada umumnya dihuni oleh penduduk asli yang dinamakan orang Alifuro dan orang Nuaula yang merupakan keturunan orang Papua. Orang ini selalu mengenakan ikat kepala merah kemanapun dia pergi sebagai penanda adat. Wilayah pantai selatan dan barat Pulau Seram umumnya dihuni masyarakat Melayu yang datang ke pulau ini sebagai transmigran asal Jawa dan Sulawesi.

Pulau Seram merupakan wilayah yang dikelilingi terumbu karang dan di kawasan perairan pulau ini menjadi habitat aneka hewan laut antara lain lumba-lumba yang hidup di alam bebas.Tersedia jalur treking yang ditempuh selama tujuh hari yang menghubungkan Wahai yang berada di kawasan pantai utara dan Hatumetan yang berada di selatan. Jalur treking melalui sebagian wilayah Taman Nasional Manusela seluas 189.000 hektar yang menjadi habitat berbagai jenis spesies burung.

Di sekitar Pulau Seram terdapat beberapa pulau kecil yang menarik untuk dikunjungi antara lain Pulau Sawai dan Pulau Raja yang berada di lepas pantai di dekat Sawai; desa yang berada di kawasan pantai utara Pulau Seram. Desa Sawai di pesisir utara Pulau Seram ini merupakan tujuan wisata utama yang potensial di Maluku. Desa ini merupakan desa nelayan yang sebagian besar rumah penduduknya dibangun di atas laut. Sebelah Selatan desa berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Manusela yang merupakan kawasan wisata alam dengan keragaman flora dan faunanya.

Beragam jenis burung, kupu-kupu, anggrek hutan dapat dilihat dengan mudah dan di sebelah Timur desa terdapat sebuah sungai dimana sehari-hari masyarakat setempat biasa memproses pembuatan sagu. Buaya, rusa dan babi hutan dapat pula disaksikan di sepanjang sungai Salaway ini. Goa-goa alam tersebar di beberapa tempat di kawasan taman nasional ini. Beberapa pulau kecil di sebelah Utara Sawai merupakan tempat ideal untuk menyelam ataupun memancing. Beberapa ekspedisi internasional seperti Operation Raleigh dilakukan di kawasan ini. Baik pulau Sawai maupun Pulau Raja merupakan pulau yang dihuni hewan kelelawar. Kedua pulau ini dapat dicapai dengan menyewa perahu motor dari Sawai selama 30 menit.

Begitu sampai di Amahai, terlihat beberapa orang dengan seragam CV ERFINS kembali, malambaikan tangannya untuk menjemput kami. Dengan oto Land Cruiser (oto sebutan mobil untuk bahasa Ambon, pen) warna hitam plat DE 1355 AA, dengan tulisan besar bertuliskan EJA kependekan dar Erfin Jaya Abadi, kami segera menuju kantor cabang, beda halnya dengan Ambon hawa di Pulau Seram lebih panas, karena arti dari seram sendiri adalah panas.

Bila kita memandang keatas arah timur terpahat di batu tebing tulisan MASOHI yang terawat dengan baik, dengan cat warna biru dan putih. Tepat disebuah pohon nangka yang rindang rem Hartop berdecit, saya segera turun, ini kantor cabang begitu direktur menjelaskan. ini merupakan kantor cabang CV ERFINS yang ada di Masohi. Masohi adalah ibukota kabupaten Maluku Tengah. Kantor cabang terletak di Kelurahan Letwaru RT 13.

Lebih tampak seperti layaknya sebuah rumah kantor yang ada di Masohi ini, namun di balik itu aktivitas perkantoran tidak kalah sibuknya dengan kantor Pusat. Masohi merupakan ibu kota Kabupaten Maluku Tengah.

Dan dari titik inilah perjalananku menjelajahi Pulau Seram dimulai. Seperti perjalanan ku beberapa saat yang lalu di Ambon begitu halnya di Pulau Seram ini. Rencana pertama yang akan kami kunjungi adalah Pantai Rutah dan Tanjung Koako.

Arah Pantai Rutah dan Tanjung Koako searah dari tempat kedatanganku kemaren, Amahai. Namun lebih ke arah timur lagi.

Dengan Hartop pagi saya sudah berangkat, hari itu bukan hari minggu, dengan harapan kedatangan kami di obyek wisata tersebut tidak ramai pelancong. Sekitar 50 menit perjalanan telah ditempuh, Disepanjang perjalanan hamparan pantai di sebelah selatan jalan, dan sekali lagi saya berdecak kagum, indah, bisik hatiku.

Pantai Rutah dengan hamparan pasir putihnya dengan rindang pohon di seluruh pinggir pantai, pohon kelapa melambai tertiup angin. Terpandang batas horizon antara laut dan langit. Enak dinikmati dengan botol Cola yang kubeli tadi dari sebuah warung di dusun Aira Desa Soahuku.

Sampai di Desa Soahuku ini juga terdapat gereja yang terhitung gereja tua Ebenhrezer.

Selanjutnya pantai Koako, pasir putih, hamparan karang disebagian tepinya. Beningnya air dan jernihnya airnya yang membuat nafsuku untuk mandi diair laut kembali bergejolak. Ketika sambil menyelam membuka mata terlihat beberapa spesies ikan laut yang indah terlihat berwarna, merah kuning dan biru. Saking beningnya airnya sehingga karang yang ada di dalam air dan ikan kelihatan. Di Pantai ini ada beberapa tempat peristirahatan yang didepannya ada seorang ibu yang berjualan rujak. dan rujak ini enak disantap ketika kita sudah selesai mandi dengan segelas air mineral. setelah puas mandi kami segera merencanakan untuk pergi ke Gunung Karae untuk menikmati sunset di sana.

Dari gunung Karae ini pemandangan kota Masohi dapat terlihat dengan indah, Tanjung koako yang aku kunjungi tadi juga terlihat. Puas melihat Masohi dari atas saya pun kembali pulang untuk segera membersihkan diri karena ketika di Pantai Koako kami tidak sempat untuk membersihkan diri. Badan terasa lengket terkena air laut.

Di perjalanan kami pulang kami melewati sebuah pura yang dibangun bagi pemeluk agama hindu yang ada di Masohi ini.

Saya Penasaran dengan pemukiman suku jawa yang tinggal di Pulau Seram karena adanya program transmigrasi yang mulai beberapa dekade yang lalu telah dicanangkan oleh pemerintah, Kobisonta. Kobisonta merupakan salah satu pemukiman transmigrasi yang ada di Pulau Seram ini. Perjalanan ke Kosonta dari Masohi memakan waktu 6 jam dan dengan jarak tempuh sekitar 280 km. Perjalan menuju kobisonta ini sangat mengasikkan. Sudah beberapa saat yang lalu kami tinggalkan Kota Masohi. Dan di depan terdapat tulisan Selamat datang di Waipia, Kota Masohi Amatoo (selamat tinggal (bhs Ambon), pen). Di desa Waipia ini merupakan desa yang penduduknya masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Kota Waipia ini kelihatan indah jika mendekati perayaan natal. Lampu berwarna-warni disepanjang jalan. Dan juga ada beberapa pohon natal dengan lampu yang indah warnanya. Waipia ini terkenal sebagai pembuat minuman keras khas dari Pulau Seram ini, yaitu Sopi sopi merupakan air minum yang disarikan dari air nira. Selain sopi juga terkenal juga dengan nama Sageru, sageru juga merupakan minuman tradisional dari pulau seram juga namun Sageru ini dibuat dari sari kelapa. Sepanjang jalan terlihat pepohonan yang masih rimbun, serta di kelilingi gunung yang menjulang tinggi. Tak sengaja pandangan mataku tertatap pada sekelompok orang yang sedang menumbuk sebuah pohon. Dan ternyata aktifitas mereka adalah untuk mengambil sari sagu dari pohon sagu. Beberapa orang itu ada disebuah pinggiran sungai. Ada orang yang menumbuk pohon sagu kemudian ada yang menyaring tumbukan air sagu dan merendamnya. Tunggu diendapkan dan endapan ini lah sagu.

Perjalanan menuju Kobisonta melewati sebuah gunung, gunung ini namanya Gunung Saka dan jalan menanjak yang membelah gunung ini orang-orang selalu menyebutnya dengan tikungan SS karena tikungan ini selalu membentuk huruf S. Naik turun dan menukik tajam, ini lah ciri khas dari tanjakan SS ini.

Layaknya sebuah pemukiman masyarakat jawa, keadaan Kobisonta ini. Sawah dengan hamparan yang luas, ternak kambing, kerbau, dan ayam ada di wilayah ini. Pagi dan siang hari anak sekolah pergi sekolah dengan sepeda, pemandangan yang lazim banget untuk di jawa tapi ini di Pulau Seram. Penduduk asli aneh melihat pemandangan ini. Namunn bagiku itu adalah pemandangan biasa seperti di jawa. Ada beberapa rumah dengan bentuk rumah joglo, rumah limasan. Transmigran ini mengolah sawahnya seperti layaknya mengolah sawah di Pulau Jawa saja. Membajak, mentraktor juga dilakukan, menyiangi tanaman, dan juga menyemprot hama. Daerah Kobisonta ini merupakan penyuplai beras terbesar untuk Seram dan Ambon, yang rata – rata penduduknya mulai beralih yang pertama mereka menggunakan makanan pokok dan kini dengan beras sebagai makanan pokok. Kalau sehari – hari kita mengenal sarapan dengan makan nasi namun bagi penduduk di Ambn sarapan adalah minum teh dengan ketela, pisang atau dengan roti. Kebiasaan yang unik menurutku.

Kami di Kobisonta menginap di Penginapan Pangestu, salah satu penginapan yang ada di daerah Kobisonta ini. Dan menurut ceritanya penginapan ini milik Bupati saat ini Bapak Karel Albert Ralahalu. Untuk menginap disini terhitung cukup murah dengan biaya 65.000 rupiah perkamar per hari. Untuk fasilitas dibilang lengkap untuk ukuran di Kobisonta ini. Dalam berkomunikasi masyarakat Kobisonta menggunakan bahasa Jawa, selain itu mereka juga mempelajari Bahasa Ambon. Di Kobisonta ini juga terdapat pondok pesantren yang santri dan santriwatinya juga banyak.

Untuk pengaliran listrik di daerah ini hanya menyala pada waktu malam hari saja, bagi penduduk yang mempunyai genset sendiri menjadi perkecualian sehingga lampu bisa menyala di siang hari. Masakan masyarakat kobisonta ini juga sangat mirip dengan masakan penduduk jawa pada umumnya. Untuk jaringan komunikasi di daerah kobisonta ini hanya menggunkana telephon satelite dan biayanya pun mahal, satu menit sekitar 6500 rupiah. Jaringan telepon selular belum dapat mencover daerah ini. Selama 2 hari menginap di Kobisonta dan melihat suasana yang saklek banget (bhs jawa, mirip, pen) dengan situasi di Jawa.

Kemudian kami langsung berencana kembali ke Ambon. Kami lintas untuk menuju ke Ambon. Berangkat dari kobisonta di pagi menjelang siang. Melewati lagi tanjakan SS, tepat di puncak tanjakan SS tempat tinggal orang Aifuru, penduduk asli yang selalu mengenakan ikat kepala merah dikepalanya. Kemudian disalah satu tanjakan tinggi waktu itu senja mulai memerah mengganti birunya langit. Matahari mulai bersembunyi di ufk barat. Percikan sinar merahnya yang indah. Didepannya terhampar tebing yang curam dengan rimbun floranya. Sangat indah dinikmati sore itu bersama sebatang rokok.

Singkat kata dan singkat cerita akhirnya kami tiba di pertigaan di Waipia, dan ketika belok kanan akan menuju Masohi kembali dan kami mengambil jalan kekiri untuk menuju Ambon. Perjalanan kami lalui, namu perjalanan menuju Kairatu tidak seperti jalan menuju ke Kobisonta. Beberapa perkebunan kami lewati, perkebunan coklat, dan taman konservasi. Kalau menuju Kobisonta terkenal dengan Tanjakan SS namun untuk ke Kairatu tanjakannya adalah tanjakan Pohon Batu. Tanjakan ini terhitung tinggi. Suasana Jalanan naik dengan pemandangan pantai nan elok dibawahnya. Bisa terlihat hamparan pantai dari tebing yang tinggi di pinggiran jalan disertai suara ombak yang menderu. Perjalanan menuju Kairatu juga ada beberapa hal yang membuat terkesan, yaitu pantai Pohon Batu satu pantai yang indah. Kami menikmati pantai ini kala kami istirahat atas perjalanan yang kami lalui untuk mendinginkan mesin Land Cruiser. Dan disela istirahat itulah kami nikmati Pantai Pohon Batu itu. Perjalanan dari Masohi ke Kairatu, pelabuhan penyeberangan lintas ke Ambon ini ditempuh selama 2 jam perjalanan menggunakan roda empat.

Tiba di pelabuhan penyeberangan ada beberapa antrian mobil, mobil berhenti dan kami membeli tiket penyeberangan, satu kendaraan roda empat adalah Rp. 130.000,00 dan ditambah tiket orang adalah Rp.11500,00. Perjalanan laut ini ditempuh dalam waktu 2 jam. Pantai Kairatu juga merupakan Pantai yang indah. Kami sempat juga makan dulu sebelum kedatangan Kapal Ferry untuk mengangkut kami. Kapal Ferry milik ASDP (Angkutan Sungai Dan Penyeberangan).

Terlihat beberapa petugas mengatur kendaraan di dalam kapal ferry, antri satu persatu dengan tertib. Dan semua kendaraan roda empat maupun roda 2 sudah masuk, dan kapal ferry sudah siap diberangkatkan. Perlahan meninggalkan Pelabuhan Waipirit dan menuju Hunimua, pemandangan pantai mulai samar terlihat. Ketika berada tengah laut, segera kutatap langit dan kuucapkan dalam hatiku, betapa indahnya ciptaan Engkau ya Allah. Sesekali ikan melompat ke atas permukaan air dan segera ditangkap oleh burung pemakan ikan.

Beberapa saat kemudian pelabuhan Hunimua mulai kelihatan dan kapal bersandar. Bunyi mesin kendaraan bermotor roda 2, truk, kendaraan roda 4, membuat sesak udara di ferry, dan aku pun tersadar dari tidurku. Yang beberapa saat yang lalu aku tidur didalam mobil.

Gudeg, Pantai Parangtritis, Malioboro itulah yang membuatku segera bergegas langsung menuju bandara. Sudah terasa kangen dengan ciri khas Yogyakarta itu. Dan mengarah untuk segera menuju Yogyakarta, karena memang tepat hari ini keberangkatan pesawat yang telah diorder di hari – hari sebelumnya. Pelan – pelan kulambaikan tangan untuk keindahan Kota Ambon, Pulau Ambon, Pulau Seram. Dan tunggulah kedatanganku dengan kondisi dan keadaan yang lain tentunya dengan visi dan misi yang berbeda tentunya.

Entry filed under: jalan jalan. Tags: .

Melepas Jenuh Menuai Kepuasan

4 Comments Add your own

  • 1. wdc  |  September 4, 2008 at 7:22 am

    bisa minta alamat expedisinya. thx b4

    Reply
  • 2. hendit setiawan  |  June 22, 2009 at 3:17 am

    smart, cerita yang indah…mengingatkan aku pada kampung halaman yang telah lama kutinggalkan….jadi pengen pulkam neh…oh iya maaf sdkit ralat, bupatinya bukan karel A.R tapi ABDULAH TUASIKAL ..thanks.

    Reply
  • 3. izeny  |  November 18, 2009 at 10:16 pm

    wah lengkap sekali ceritanya! akan ke sana lg ghak, Mas?
    sbenarnya sy jg orang jogja(tp di rantau), yg pengin skali main ke Indonesia Timur(Ambon, Tual…), skitar februari 2010. Hayoo, siapa yg mau barengan berpetualang….Trimakasih n let me know,
    Iyan

    Reply
    • 4. angankeyen  |  November 20, 2009 at 2:35 am

      wahhh…
      tengkiu…tengkiu masukannya…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


angan keyen


caretan kecil penaku..
kerusakan lingkungan....
pedihnya kaum minoritas..

My account in facebook

My account in yahoo

My account in twitter

Calendar

February 2008
M T W T F S S
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Archives

Blog Stats

  • 51,645 hits

Share this blog

Bookmark and Share
Bookmark

Print and pdf

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

blog-indonesia.com
Best regards,

%d bloggers like this: