Lubang Biopori

April 11, 2010 at 8:17 am 1 comment

Kita semua tidak bisa lepas dari kebutuhan air dalam keseharian dan air tanah merupakan satu-satunya sumber daya alam yang ada di Kota Yogyakarta. Kota kita ini juga tidak mempunyai wilayah konservasi air. Wilayah konservasi air untuk Kota Yogyakarta berada di Kabupaten Sleman. Sebagai pengguna air tanah paling banyak karena Kota Yogyakarta merupakan pusat kota dengan jumlah penduduk saat siang hari sudah lebih dari 1 juta orang sudah sepatutnya kita menjaga keberadaan air tanah dan melestarikan fungsinya.

Pada dasarnya, lubang resapan biopori merupakan lubang vertikal ke dalam tanah yang berfungsi meningkatkan laju peresapan air hujan. Pembuatan lubang resapan biopori ke dalam tanah secara langsung akan memperluas bidang permukaan peresapan air, seluas permukaan dinding lubang.

Lubang resapan biopori merupakan lubang silindris yang dibuat ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm, dengan kedalaman sekitar 100 cm atau jangan melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang tersebut kemudian diisi oleh sampah organik agar terbentuk biopori dari aktivitas organisme tanah dan akar tanaman. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah menyusut karena proses pelapukan. Karena berdiameter kecil, lubang ini mampu mengurangi beban resapan, sehingga, laju peresapan air dapat dipertahankan. Pembuatan lubang resapan biopori cukup sederhana, murah dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Alatnya tergolong sederhana berupa bor hasil modifikasi.

Inovator teknologi pembuatan lubang resapan biopori adalah R.Kamir Brata seorang Staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Institut Pertanian Bogor. Ide pembuatan lubang biopori terlintas setelah ia meneliti bongkahan tanah kawasan hutan konservasi di Sumatera. Pada bongkahan itu ia menemukan ratusan lubang mirip terowongan yang berbentuk pori-pori. Lubang-lubang itu dibuat oleh semut, rayap, cacing, dan akar tanaman. Dalam satu bongkahan seukuran kelapa terdapat ratusan lubang yang menyerap air di kala hujan.

Setelah diteliti lebih jauh, ternyata ada lubang tak kasat mata pada bongkahan, yakni ratusan lubang biopori di dalam tanah. Lubang-lubang ini berfungsi menyerap air, menyaring air bersih, mengurai sampah organik, serta menjaga unsur hara pada tanah. Bongkahan tanah itu ia temukan di lokasi dengan banyak tumbuhan dan humus.

Bagaimana dengan tanah di kota yang sudah dipenuhi beton? Di tanah-tanah perkotaan, jelas tidak ada biopori seperti di hutan. Biopori harus dibuat untuk menjaga kemampuan tanah mengisap dan menyimpan air. Kamir mulai memperkenalkan pembuatan lubang resapan biopori, tapi gayung tak bersambut. Setelah banjir berlalu, orang lupa bahwa air bah bisa kembali datang. Pemerintah maupun pihak swasta tak berminat mengadopsi idenya karena dianggap terlalu sederhana.

Memang teknologi ini sederhana. Lebih sederhana dibanding sumur resapan. Sumur resapan menggunakan batu, pasir, dan ijuk yang ditutupi tanah lalu dilapisi semen. Menurut Kamir, teknik sumur resapan justru tidak efektif. Sebab, makhluk hidup di dalam tanah akan kekurangan oksigen. Dan, mereka tidak membutuhkan material tersebut. Akibatnya, banyak hewan-hewan pengurai yang mati dan tingkat resapan dipastikan berkurang.

Lubang biopori sebaiknya dibuat di bagian tanah yang tidak terendam air atau lebih tinggi dari saluran air. Jadi, selama musim kering, lubang tidak terendam air. Jika terendam, makhluk-makhluk seperti cacing, rayap, semut akan kekurangan oksigen. Selain itu, menandakan hilangnya kemampuan meresap air karena sudah jenuh.

Untuk mengetahui banyaknya lubang yang diperlukan, misalnya dalam areal 100 meter persegi, ada rumusnya. Menurut Kamir, rumus itu adalah hitungan tingkat curah hujan di daerah tersebut dibanding luas tanah. Tanah 100 meter persegi yang berada di daerah curah hujan 50 milimeter (curah hujan sedang) membutuhkan sekitar 20 lubang biopori. Hitungan itu mempertimbangkan kemampuan tanah dalam meresap air.

Supaya lubang resapan biopori berfungsi baik, sampah organik seperti daun dan sayuran busuk disimpan di sekitar mulut lubang. Sehingga, setelah dihancurkan oleh hewan pengurai, bahan organik akan jatuh ke dalam lubang dengan sendirinya. Lubang jangan diisi terlalu padat, karena akan mengurangi jumlah oksigen di dalamnya. Risikonya memang tidak enak: sampah akan mengeluarkan bau busuk. Adanya cacing di lubang biopori, akan membuat lubang-lubang kecil, sehingga akan menjadi resapan air. Teknologi sederhana tersebut untuk membantu konservasi lahan, yang dapat mencegah longsor dan banjir.

Kebutuhan Lubang Resapan Biopori

Lubang biopori merupakan teknologi tepat guna yang bermanfaat untuk mengurangi genangan air dan sampah organik. Khususnya di kawasan pemukiman, antara lain untuk mengurangi tingkat genangan air di pekarangan. Dan jika dibuat secara massal pada taman lingkungan, maka lubang ini juga dapat mengurangi genangan air di kawasan perumahan. Beberapa taman di kawasan Jakarta juga sudah dibuatkan lubang biopori. Selain itu lubang ini juga dapat dijumpai di kediaman beberapa tokoh seperti Jusuf Kalla dan Fauzi Bowo.

Berdasarkan perhitungan secara teoritis oleh Dr. Widodo dari UII Yogyakarta, ternyata jumlah air tanah di semua kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta sudah mencapai tahap kritis. Hal ini berarti antara jumlah air yang tersedia di akuifer atas cekungan air tidak mencukupi terhadap kebutuhan pemakaian air di masyarakat. Krisis air ini tidak hanya melanda wilayah Kota Yogyakarta saja tetapi di seluruh Pulau Jawa, karena indeks ketersediaan air di Pulau Jawa hanya 1,6 jauh di bawah indeks rata-rata nasional, yaitu 16,8.

Pembuatan sumur-sumur peresapan pada setiap bangunan yang diharuskan pada setiap bangunan tertutup memang sudah termuat dalam Perda IMBB, tetapi pelaksanaan di lapangan apakah sumur peresapan tersebut dibuat atau tidak siapa yang akan mengawasi? Atau jika sumur peresapan tersebut dibuat, apakah jumlahnya sudah sesuai dengan ketentuan yang harus dibuat yaitu setiap 100 m2 luasan bangunan tertutup harus ada 1 buah sumur peresapan?

Saat ini sudah ada penemuan dari Bapak Kamir R. Brata, Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya lahan dari Institut Pertanian Bogor, berupa Lubang Resapan Biopori atau biasa disingkat LRB dengan memanfaatkan air hujan agar sebanyak mungkin meresap ke dalam tanah. Penemuan beliau tersebut terinspirasi dari Al_Qur’an Surat Az-Zumar ayat 21.

Prinsip dari Biopori adalah memperbanyak lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Bila lubang-lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah atau dengan perkataan lain akan dapat mengurangi bahaya banjir yang mungkin terjadi.

Peningkatan jumlah biopori tersebut dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal kedalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau vegetasi lainnya, dan sejenisnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehinga aktifitas mereka akan meningkat. Dengan meningkatnya aktifitas mereka maka akan semakin banyak biopori yang terbentuk. Kesinergisan antara lubang vertikal yang dibuat dengan biopori yang terbentuk akan memungkinkan lubang-lubang ini dimanfaatkan sebagai lubang peresapan air artifisial yang relatif murah dan ramah lingkungan. Lubang resapan inilah yang disebut LUBANG RESAPAN BIOPORI (LRB).

Biopori merupakan teknologi sederhana tepat guna multi fungsi. Bisa untuk resapan air, bisa untuk mengurangi genangan air, bisa untuk wadah pengomposan, dan tentunya menyuburkan tanah. Selain itu juga teknologi ini sangat aplikatif karena mudah dan murah lebih sederhana daripada sumur resapan, juga sangat dianjurkan terutama di kawasan padat pemukiman. Teknologi ini tepat di terapkan di Kota Yogyakarta karena kondisi tanahnya yang berpasir sehingga porous oleh air.

Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm2 atau hampir 1/3 m2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78.5 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm2. Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu, bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air. Dengan demikian, kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air.

Cara Pembuatan Lubang Biopori
1. Teknologi ini diawali dengan pembuatan lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm. Kedalaman kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang antara 50 – 100 cm
2. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2 – 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang
3. Langkah selanjutnya adalah memasukan sampah lapuk dua sampai tiga kilogram tergantung jenisnya ke dalam lubang tersebut, sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput
4. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan
5. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan
6. Lubang yang sudah dibuat lalu ditutup dengan kawat jaring agar orang yang menginjaknya tidak terperosok

Sampah yang dimasukkan dalam lubang dimaksudkan untuk memancing binatang-binatang, semut, cacing, atau rayap masuk di situ membuat biopori sebagai terowongan kecil, sehingga air cepat meresap. Karena air cepat meresap, maka walaupun air terkumpul di situ, tidak menjadikan jenuh air. Kalau tidak jenuh air berarti airnya cukup, udaranya cukup. Makhluk hidup perlu air, perlu udara, perlu makanan, adapun makanan mikroorganisme adalah sampah, sehingga walaupun ada tumpukan sampah dalam lubang tetap saja sampah tidak bau.
<Photo 1><Photo 2>

Perhitungan jumlah biopori
Jumlah LRB = intensitas hujan(mm/jam) x luas bidang kedap (m2) / Laju Peresapan Air per Lubang (liter/jam)
Sebagai contoh, untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap perlu dibuat sebanyak (50 x 100) / 180 = 28 lubang. Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm, maka setiap lubang dapat menampung 7.8 liter sampah organik. Ini berarti bahwa setiap lubang dapat diisi dengan sampah organik selama 2 – 3 hari. Dengan demikian 28 lubang baru dapat dipenuhi dengan sampah organik yang dihasilkan selama 56 – 84 hari. Dalam selang waktu tersebut lubang yang pertama diisi sudah terdekomposisi menjadi kompos sehingga volumenya telah menyusut. Dengan demikian lubang-lubang ini sudah dapat diisi kembali dengan sampah organik baru dan begitu seterusnya.

Teknologi ini bisa diterapkan diselokan yang seluruhnya tertutup semen ataupun di halaman rumah yang sudah tertutup semen atau konblok. Di bagian bawah selokan itu dibuatkan beberapa lubang, sehingga ketika air hujan turun dapat langsung meresap ke dalam tanah.

http://www.biopori.com, http://feiraz.wordpress.com/2007/12/, http://oasezam.wordpress.com/2009/06/15/solusi-banjir-dengan-membuat-lubang-biopori/, http://library.monx007.com/property/keunggulan_dan_manfaat_biopori/1, http://www.ubb.ac.id/featurelengkap.php?judul=Biopori:%20Teknologi%20Solusi%20Banjir&&nomorurut_berita=73

Entry filed under: keilmuan, lingkungan. Tags: .

Aerasi Cascade Pada Reaktor Tanah Laterit Pernikahan ala agama

1 Comment Add your own

  • 1. wella hanika  |  March 14, 2012 at 2:29 pm

    aq mw tw dong cara untuk menghitung jmlah lubang biopori brdasarkan curah hujannya ?
    thanks

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


angan keyen


caretan kecil penaku..
kerusakan lingkungan....
pedihnya kaum minoritas..

My account in facebook

My account in yahoo

My account in twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Calendar

April 2010
M T W T F S S
« Feb   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Archives

Blog Stats

  • 38,671 hits

Share this blog

Bookmark and Share
Bookmark

Print and pdf

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

blog-indonesia.com
Best regards,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: