KEBUDAYAAN DAYAK

November 10, 2009 at 1:58 pm 5 comments

Ngayau, merupakan tradisi kaum Dayak Iban pada suatu masa dahulu. Kini tradisi memburu kepala atau “ngayau” tidak lagi diamalkan dan telah diharamkan oleh terutamanya pada zaman penjajahan lagi. Ramai pihak berpendapat atau berfahaman bahawa, “lelaki iban yang berjaya memperolehi kepala dalam ekspedisi ngayau akan menjadi rebutan atau kegilaan ramai wanita” ini kerana ia melambangkan keberanian dan satu jaminan dan kepercayaan bahawa lelaki tersebut mampu menjaga keselamatan wanita yang dikahwininya. Sebenarnya kenyataan itu tidak 100% tepat, malah masih boleh dipersoalkan. Ia dikatakan sedemikian kerana menurut cerita lisan masyarakat Iban di Rumah-Rumah panjang, selain orang Bujang ada juga individu yang telah berkeluarga menyertai ekspedisi memburu kepala.

Oleh itu, paling tepat kalau kita katakan bahawa, aktiviti “Ngayau” dijalankan adalah untuk mendapat penghormatan pada mata masyarakat. Dalam erti kata lain, “ngayau” juga berperanan untuk menaikan taraf sosial seseorang. Orang yang pernah memperolehi kepala dalam aktiviti “ngayau” yang disertainya akan digelar sebagai “Bujang Berani”, serta dikaitkan dengan hal-hal sakti. Ternyata bahawa masyarakat Iban Tradisional tidak memandang “Ngayau” sebagai perkara yang memudaratkan. Malah berdasarkan cerita lisan masyarakat Iban juga, “ngayau” sentiasa dikaitkan dengan bebagai-bagai unsur positif. Misalnya, “Ngayau sebagai lambang keberanian, Simbol Kelelakian, serta martabat Sosial.

Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Iban Adalah salah satu suku Dayak yang memiliki adat Ngayau. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh.

Makna dari Ngayau mempunyai arti turun berperang dalam rangka mempertahankan status kekuasaan misalnya mempertahankan atau memperluas daerah kekuasaan yang dibuktikan banyaknya kepala musuh. Semakin banyak kepala musuh yang diperoleh semakin kuat/perkaya orang yang bersangkutan.

Adat Ngayau pertama kali urang Libau Lendau Dibiau Takang Isang (kayangan) yang saat itu sebagai tuai rumah (kepala kampung) yang bernama Keling. Berkat keberaniannya dan kegagahannya dia diberi gelar keling Gerasi Nading, Bujang Berani kempang (keling merupakan orang yang gagah berani). Gelar tersebut diberikan oleh seseorang tetua Iban yang bernama Merdan Tuai Iban yang saat itu tinggal di Tatai Bandam (masuk dalam wilayah Lubuk Antu Sarawak Malaysia).

Seiring dengan kemajuan jaman, Upacara adat Ngayau yang sering dilakukan mempunyai makna mengisyaratkan atau memberitahukan generasi muda tentang peristiwa Ngayau pada jaman dulu.

Suku Bukit/Suku Dayak Bukit/Suku Dayak Meratusadalah suku asli yang mendiami pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan, karena itu suku ini lebih senang disebut Dayak Meratus, daripada “Dayak Bukit” sudah terlanjur dimaknai sebagai “orang gunung”. Padahal menurut Hairus Salim dari kosa kata lokal di daerah tersebut istilah ‘bukit’ berarti bagian bawah dari suatu pohon’ yang juga bermakna ‘orang atau sekelompok orang atau rumpun keluarga yang pertama yang merupakan cikal bakal masyarakat lainnya’. Adapula yang menamakan sebagai Dayak Banjar, artinya Dayak yang berasal dari daerah Banjar yaitu Kalimantan Selatan.

Populasi suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan pada sensus penduduk tahun 2000 berjumlah 35.838 jiwa, sebagian besar daripadanya terdapat di kabupaten Kota Baru yang berjumlah 14.508 jiwa.

Suku Bukit juga dinamakan Ukit, Buket, Bukat atau Bukut. Suku Bukit atau suku Dayak Bukit terdapat di beberapa kecamatan yang terletak di pegunungan Meratus pada kabupaten Banjar, kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, kabupaten Tapin, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru.

Beberapa golongan Dayak Bukit yaitu

* Dayak Pitap, di hulu sungai Pitap, kecamatan Awayan, Balangan
* Dayak Hantakan, di kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah
* Dayak Haruyan, di kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah
* Dayak Loksado, di kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan
* Dayak Piani, di kecamatan Piani, Tapin
* Dayak Paramasan, di kecamatan Paramasan, Banjar
* Dayak Riam Adungan, di kecamatan Kintap, Tanah Laut
* Dayak Bajuin, di kecamatan Pelaihari, Tanah Laut
* Dayak Bangkalaan, di kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru
* Dayak Sampanahan, di kecamatan Sampanahan, Kotabaru
* Dayak Labuhan
* dan lain-lain

Menurut Cilik Riwut, Suku Dayak Bukit merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju.

Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.

Silsilah suku Bukit;

Suku Dayak (suku asal), terbagi 5 suku besar / rumpun:

* Dayak Laut (Iban)
* Dayak Darat
* Dayak Apo Kayan / Kenyah-Bahau
* Dayak Murut
* Dayak Ngaju / Ot Danum, terbagi 4 suku kecil:
o Dayak Maanyan
o Dayak Lawangan
o Dayak Dusun
o Dayak Ngaju, terbagi beberapa suku kekeluargaan (sedatuk) :
+ Dayak Bukit
+ Dayak Bakumpai
+ Dayak Berangas
+ Dayak Mendawai
+ dan lain-lain

Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalam kehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen, sebagaimana halnya dengan suku Kanayatn di Kalimantan Barat. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi ngayau yang ada zaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.

Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya “Aruh Bawanang”. Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.

Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, “memusat” karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihuni oleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).

Suku Dayak Bukit menganal tiga kelompok roh pemelihara kawasan pemukiman dan tempat tinggal yaitu :

1. Siasia Banua
2. Bubuhan Aing
3. Kariau

Siasia Banua contohnya :

1. Siasia Banua Kambat
2. Siasia Banua Pantai Batung
3. Siasia Banua Kambat
4. dan sebagainya

Bubuhan Aing contohnya :

1. Bubuhan Aing Muhara Indan
2. Bubuhan Aing Danau Bacaramin
3. Bubuhan Aing Maantas
4. dan sebagainya

Kariau contohnya :

1. Kariau Labuhan
2. Kariau Padang Batung
3. Kariau Mantuil
4. dan sebagainya

Suku-Suku di Kerajaan Banjar

Ketika Banjarmasin lahir di tahun 1526 yang merupakan lahirnya kerajaan Banjar, penduduknya adalah campuran dari unsur Melayu, Ngaju, Maanyan, Bukit, Jawa dan suku-suku kecil lainnya yang dipersatukan oleh agama Islam, berbahasa dan beradat istiadat Banjar. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya dengan inti pembentukan persatuan etnik lahir kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu, dan Kelompok Banjar Pahuluan.

Kelompok Banjar Kuala tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan Martapura, berasal dari kesatuan etnik Ngaju. Kelompok Banjar Batang Banyu tinggal di sepanjang Sungai Tabalong dari muaranya Sungai Barito sampai dengan Kalua, berasal dari kesatuan etnik Maanyan. Kelompok Banjar Pahuluan tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pleihari, berasal dari kesatuan etnik Bukit.

Suku lain yang tergolong penduduk asli Kalimantan Selatan, yaitu:

1. Suku Maanyan, tinggal di daerah Warukin di Tabalong
2. Suku Dayak Dusun Deah, tinggal di Pangelak, Upau, Kinarum, Kaong, Gunung Riut, Mangkupum, Haruai dan Muhara Uya di Tabalong
3. Suku Bakumpai, tinggal di daerah Marabahan dan sekitarnya di Barito Kuala
4. Suku Dayak Balangan, tinggal di Halong dan sekitarnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan
5. Suku Bukit, tinggal di sepanjang pegunungan Meratus
6. Suku Abal, suku ini sudah punah dulunya tinggal di daerah Tabalong
7. Suku Lawangan di kabupaten Tabalong

koreksi dari alamnirvana: no.4, berada di Kabupaten Balangan daerah pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara
Kemudian sebagai suku pendatang:

1. Suku Jawa, di Tamban Barito Kuala
2. Suku Madura, di Madurejo Pengaron Kabupaten Banjar
3. Suku Bugis, di Pulau Laut dan sekitarnya di Kabupaten Kotabaru
4. Suku Mandar, di Pulau Laut dan sekitarnya
5. Suku Bajau, di Rampa Bajau Kotabaru
6. Cina Parit, di Kabupaten Tanah Laut di Sungai Perit Pleihari
7. Penduduk pendatang dari Sumatera, Ambon, dan lain-lain menyebar ke tiap daerah di Kalimantan Selatan.

Pemerintah Kota Palangka Raya, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat menjadikan upacara ritual adat Tiwah sebagai objek wisata. Upacara ritual adat Tiwah satu dari 12 objek wisata andalan Kota Palangka Raya yang terus dipromosikan dan dilestarikan. Demikian Kepala Bidang Kepariwisataan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Anna Menur, Selasa.

Menurutnya, ritual adat Tiwah dijadikan objek wisata karena unik dan khas yang bisa menjadi daya tarik orang lain untuk mengetahui ritual tersebut. Apalagi kalangan wisatawan mancanegara, sangat tertarik dengan hal-hal unik dan spesifik, yang hanya dilakukan warga Dayak Kalteng tersebut.

Menurutnya, upacara adat keagamaan ini merupakan bagian dari kepercayaan umat Hindu Kaharingan. Hindu Kaharingan merupakan agama terdahulu yang ada di Pulau Kalimantan. Agama ini secara turun temurun dipercayai hingga generasi sekarang.

Sementara ritual Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa-sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang disebut sandung.

Namun kegiatan ini tidak bisa dijadwalkan secara tetap setiap tahun, sebab dalam penyelenggaraannya sangat tergantung kesiapan keluarga terutama dalam segi finansial, kata Anna, seraya mengutip buku terbitan instansinya mengenai ritual adat Tiwah tersebut.

Menurut Anna, selain Tiwah yang jadi objek wisata masyarakat Kota Palangka Raya, juga ada kegiatan budaya Pekan Budaya Isen Mulang yang digelar secara tahunan.

Festival budaya tahunan ini sebagai wujud aprisiasi pemerintah dan masyarakat Kota Palangka Raya atas peninggalan adat istiadat leluhur, dengan menggelar adu ketangkasan dalam berbagai kreteria.

Selain itu, budaya Isen Mulang juga menggelar berbagai lomba, antara lain tari tradisional, kerungut, malamang, masak tradisional, melukis ornamen Dayak, eksebisi seni, bela diri, serta lomba mengarang cerita rakyat.

Berdasarkan sebuah catatan, Tiwah bagi masyarakat Hindu Kaharingan merupakan upacara terakhir dari rentetan upacara kematian.

Acara Tiwah berkaitan erat dengan konsep roh atau jiwa yang dipercayai oleh masyarakat Dayak Ngaju ketika mereka meninggal maka rohnya akan terbagi menjadi tiga.

Pertama, Salumpuk teras liau atau panyalumpuk liau, roh utama yang menghidupkan ini pada saat meninggal dunia langsung kembali ke Ranying Mahatala Langit Sang Pencipta.

Kedua, liau balawang panjang ganan bereng, roh dalam tubuh yang dalam upacara balian tantulak ambun rutas matei di hantar ke tempat yang bernama lewu balo indu rangkang penyang. Dan ketiga, liau karahang tulang, silu, tuntang balau.

Ini adalah roh yang mendiami tulang, kuku, dan rambut. Pada saat mati roh ini tinggal di dalam peti mati. Upacara yang terakhir adalah Tiwah, menyatukan kembali ketiga roh tadi dan menghantarkan ke Sorga yang dikenal dengan Lewu Tatau

About these ads

Entry filed under: budaya, keilmuan, sejarah. Tags: .

KONSERVASI POHON ULIN (Eusideroxylon zwageri) DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Festival Blog STOS

5 Comments Add your own

  • 1. Yulianti Agan  |  April 5, 2010 at 10:25 am

    Kalau bisa tambahkan lagi berbagai informasi mengenai suku dayak yang berada di daerah pegunungan Meratus dan bagaimana dengan suku Dayak yang berasal dari Kalimantan Timur.

    Reply
  • 2. angankeyen  |  April 11, 2010 at 7:25 am

    oke nanti saya belajar lagi nanti kalo udah dapet biar tak upload lagi ya..

    Reply
  • 3. Langit Merah  |  August 3, 2010 at 2:40 am

    Senang bacanya, kelihatannya anda lumayan tau banyak,

    Reply
    • 4. angankeyen  |  August 5, 2010 at 2:21 pm

      hanya sedikit saja koq…
      gak banyak…

      Reply
  • 5. gordon milton  |  October 1, 2010 at 11:35 pm

    proud to be dayak..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


angan keyen


caretan kecil penaku..
kerusakan lingkungan....
pedihnya kaum minoritas..

My account in facebook

My account in yahoo

My account in twitter

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Mar   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Blog Stats

  • 36,174 hits

Share this blog

Bookmark and Share
Bookmark

Print and pdf

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4 other followers

blog-indonesia.com
Best regards,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: